Sejarah Ilustrasi di Indonesia

Pekermbangan zaman membuat manusia mulai mengenal tulisan, mulai muncul seni ilustrasi berupa adanya tulisan yang dituliskan di daun lontar. Selain sebagai media penyambapaian pesan serta ajaran-ajaran tertentu, daun lontar yang digambar juga dijadikan sebagai hiasan. Selain itu ada pula wayang, berupa lembaran kulit binatang yang digambar menyerupai tokoh tertentu yang difungsikan sebagai media bercerita yang dituturkan oleh seorang dalang.

Seiring masuknya penjajah ke wilayah Indonesia, seni ilustrasi berkembang menjadi aliran yang lebih modern. Perkembangan ilustrasi masa Belanda didorong oleh masuknya para ilustrator Belanda yang bekerja di penerbitan diikuti oleh para ilustrator Indonesia. Percampuran budaya antara Belanda dan Indonesia menghasilkan seni ilustrasi modern yang terlihat dari hasil-hasil karya yang diterbitkan Penerbit Balai Pustaka.

Pada masa penjajahan Jepang, seni ilustrasi tak hanya sberfungsi sebagai sebuah karya seni biasa. Seni ilustrasi digunakan sebagai media pemberontakan pada masa penjajahan Jepang. Penyebaran semangat untuk berjuang melawan dan melakukan propaganda. Banyak selebaran-selebaran yang berisi ilustrasi tantang semangat perjuangan melawan penjajahan. Sehingga pemerintah Jepang membentuk badan sensor pada ilustrasi yang diterbitkan oleh pemuda Indonesia pada masa itu.

Perkembangan seni ilustrasi semakin berkembang pesat setelah Indonesia merdeka. Pada saat zaman orde baru, Indonesia mulai membuat ilustrasi untuk uang kertas sendiri. Pada tahun 1951 pelukis Oesman Effendi dan ilustrator Abdul Salam diberi mandat oleh negara untuk pergi ke Belanda dengan maksud mempelajari ilustrasi dalam pembuatan uang kertas. Setelah mempelajari ke negeri Belanda maka nantinya diajarkan di tanah air.

Pada orde baru, seni ilustrasi bekembang lebih pesat lagi. Adanya kebebasan berpendapat juga memberikan pengaruh yang sangat besar pada pekermbangan ilustrasi. Tak hanya ilustrasi untuk uang kertas saja, namun ilustrasi sudah mulai digunakan pada penerbitan  seperti koran, majalah, buku cerita anak, buku pelajaran, dll. Tak hanya dalam bidang penerbitan, namun seni ilustrasi juga masuk dalam seni jalanan seperti mural pada tembok pinggir jalan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *